PEMETAAN FAKTOR RISIKO DAN ANALISIS DAMPAK KESEHATAN
LINGKUNGAN KAITANNYA DENGAN KEBERADAAN VEKTOR DBD
DI KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR
Oleh : Hamidi

8

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan angka kejadiannya cenderung meningkat serta semakin luas penyebarannya seiring dengan kemajuan transportasi dan perkembangan pemukiman penduduk. Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan salah satu kabupaten endemis terhadap penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) bahkan Nopember 2011 pernah ditetapkan
KLB DBD dengan 6 orang meninggal akibat DBD atau Case Fatality Rate 1,6 %. Oleh karena itu dalam rangka menindaklanjuti keadaan tersebut maka perlu dilakukan kajian faktor risiko kejadian demam berdarah di kabupaten Kotawaringin Timur untuk mencari dan menemukan faktor risiko dan selanjutnya memberikan solusi yang dapat
dilakukan dalam rangka menurunkan angka kejadian demam berdarah, dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes dalam container (tempat penampungan air dan bukan tempat penampungan air) di Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah.

Kerangka konsep kajian

8

 

Jenis kajian ini adalah deskriptif analitik menggunakan rancangan /desain cross sectional, sedangkan metode yang dipakai adalah survey dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Populasinya adalah seluruh rumah yang berada di 8 wilayah Kelurahan, 6 Kecamatan dalam kabupaten Kotawaringin Timur. Sampel dalam studi
ini adalah seluruh rumah yang dipilih yang berada di wilayah di 8 Kelurahan pada 6 Kecamatan dalam kabupaten Kotawaringin Timur. Sebagai responden dalam studi ini adalah ibu rumah tangga atau penghuni yang tinggal di dalam dan mengurus rumah tangga.Besar sampel adalah sebesar 1102, namun karena pada saat pelaksanaan terkendala oleh yang empunya rumah/penghuni tidak ada atau tidak bersedia, sehingga total jumlah rumah yang
didapatkan sampai akhir pelaksanaan survei sebesar 903 rumah. Angka ini diperoleh dari tabel jumlah rumah yang ada pada 8 kelurahan sebesar 22014 rumah dengan jumlah populasi 85911menggunakan house indeks yang sebenarnya > 2%.

Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil kajian lapangan pada Kabupaten Kotawaringin Timur di 8 kelurahan dalam 6 kecamatan, selengkapnya disampaikan seperti berikut ini. Kejadian demam berdarah di Kabupaten Kotawaringin Timur berdasarkan angka yang ada dari tahun 2005 sampai dengan bulan Januari 2013 cenderung mengalami kenaikan.

Grafik 1. Persentase kontainer yang digunakan masyarakat.

9

Persentase container yang terbanyak digunakan masyarakat adalah tempat penampungan air (TPA), seperti pada grafik dibawah ini :

Grafik 2. Persentase Jenis Kontainer Pada Tempat Penampungan Air Yang digunakan Masyarakat

10

Jenis kontainer berupa tempat penampungan air yang terbanyak digunakan adalah berupa drum dengan bahan plastik.
Grafik 3. Persentase Jenis Kontainer Bukan Tempat Penampungan Air Yang Digunakan Masyarakat.

11

Kontainer yang bukan merupakan tempat  penampungan air persentasinya lebih besar ditemukan dalam masyarakat  adalah talang air.

Grafik 4. Persentase Jenis Habitat Alami Yang Terdapat di Masyarakat

12

Habitat alami yang persentasenya relative lebih banyak ditemukan pada pelepah daun.

Grafik 5. Kasus demam berdarah di Kabupaten Kotawaringin Timur

13

Kecenderungan kenaikan tersebut dimungkinkan oleh beberapa keadaan, berdasarkan hasil kajian yang dilakukan seperti terlihat pada gambar 1 dan 2 secara umum dapat dikemukan sebagai berikut:

  • Keadaan lingkungan dan masyarakat
  • Perilaku penanganan sampah yang dibakar
  • Rumah panggung dan bahan rumah dari
    kayu
  • Jarak antar rumah
  • Mobilitas masyarakat yang bepergian ke
    luar daerah
  • Penghasilan dan pekerjaan
  • Keadaan tempat perindukan nyamuk
  • pH air kontainer
  • Tempat penampungan air (TPA) (terbuka,
    tidak diberi abate, tidak dikuras)
  • Volume TPA
  • Letak TPA
  • Bahan dan jenis TPA
  • Sumber lain

Gambar 1. Analisis data umum kondisi lingkungan dan hasil pengamatan terhadap kejadian demam berdarah

14

Sampah dari hasil aktifitas rumah tangga berdasarkan hasil kajian ini dikelompokkan secara berurutan dari yang terbanyak ke yang terkecil menjadi 5 pola pengelolaan, yaitu : dibakar, dibuang ke TPS (tempat Penampungan Semenetara), ditumpuk/dikumpulkan dan dibuang, dibuang ke sungai, dan dibuat kompos. Dari 5 pola ini terdapat 2
yang menjadi risiko terhadap kontribusi kejadian demam berdarah, yaitu sampah yang dibakar dan sampah yang ditumpuk, dikumpulkan lalu dibuang ke belakang atau disekitar rumah. Secara fisik sampah yang dibakar memang jumlahnya berkurang, akan tetapi pembakaran tidak semuanya musnah sebagai contoh kaleng sisa bekas
minuman, bekas makanan, dan botol-botol plastik bekas minuman (aqua), tempurung kelapa, masih ditemukan adanya jentik aedes agypti pada kaleng sisa bakaran tersebut.

Gambar 2. Analisis data tempat perindukan nyamuk aedes agypti dan hasil pengamatan terhadap kejadian demam berdarah

15

Hal ini dikarenakan air hujan masih tertampung pada sisa bakaran yang tidak habis terbakar. Selain itu sampah yang ditumpuk,dikumpulkan lalu dibuang ke belakang atau disekitar rumah meskipun dalam kajian ini hanya 6,3%, juga merupakan faktor risiko kejadian demam berdarah, karena komposisi sampahnya juga sama.

Kesimpulan

  1. Responden dalam kajian ini kebanyakan adalah suami dalam keluarga (62,1%) usia lebih dari 40 tahun (49,2%), bekerja sebagai pedagang/wiraswasta (29,7%), tingkat penghasilan perbulannya lebih dari Rp 1 juta (48,4%), pendidikan tamat SLTA (34,1%), dan frekuensi bepergian ke luar daerah antara 2-4 kali dalam sebulan (4,1%) serta didominasi oleh 3 suku/etnis yaitu: Banjar (39,3%), Dayak (29,0%) dan Jawa (24,0%) .
  2. Rumah dan lingkungannya dalam kajian ini diidentifikasi menyumbang faktor risiko terhadap perkembangbiakan nyamuk aedes meliputi jarak antar rumah yang kurang dari 2 meter pada sisi; sebelah kiri (45,5%), sebelah kanan (44,4%), depan/muka (33,0%), belakang (43,6%). Pencahayaan yang kurang/tidak cukup (3,9%), rumah berbentuk panggung (38,8%), bahan bangunan kayu (46,4%), pengelolaan sampah rumah tangga
    dengan dibakar (55,6%).
  3. Kontainer tempat perindukan /perkembangbiakan nyamuk aedes dalam bentuk tempat penampungan air adalah drum (28,3%), bak mandi(24,73%), ember(18,60%), bak WC (12,04%), tempayan(4,30%), dan
    tandon(1,60%).
  4. Kontainer tempat peridukan / perkembangbiakan nyamuk aedes dalam bentuk bukan tempat penampungan air adalah talang air (2,70%), vas/pot bunga (1,50%), kaleng bekas (1,40%), ban bekas (1,30%), gelas/botol bekas (1,20%), saluran air lain (0,81%), kolam/akuarium (0,68%), tempat minum burung (0,30%).
  5. Habit alam tempat perindukan /perkembangbiakan nyamuk meliputi; pelepah daun (0,23%), tempurung (0,11%), lubang pohon (0,11%), dan potongan bambu (0,04%).
  6. Perindukan/perkembangbiakan nyamuk aedes lebih banyak ditemukan pada jenis tempat penampungan air berupa drum dengan bahan plastik.
  7. Drum plastik yang diletakkan diluar rumah dalam keadaan terbuka atau tidak sempurna ditutup memberikan kontibusi 6,4% untuk perkembang biakan nyamuk aedes,sedangkan yang diletakkan di dalam rumah
    memberikan kontibusi sebesar 4,3%.

Saran
Atas dasar hasil kajian di atas dalam rangka menurunkan kejadian kasus DBD di kabupaten Kotawaringin Timur dapat dilakukan upaya-upaya berikut ini.

  1. Dinas kesehatan dapat mengimplementasikan “teori simpul”, melalui tahapan, pada simpul pertama dengan surveilans kesehatan lingkungan dan penderita DBD secara aktif untuk membuat profil forensik sanitasi; pada
    simpul ke dua dengan pemantauan jentik berkesinambungan dan upaya memasyarakatkan pemeliharaan ikan pemakan jentik; simpul ke tiga pemberian informasi secara berkesinambungan dalam rangka PSN-DBD
    melalui tokoh agama, tokoh masyarakat, dan guru dengan isi pesannya ringan tetapi menyentuh; simpul ke empat penatalaksanaan kasus DBD secara cepat dan tepat.
  2. Sisa bakaran sampah rumah tangga terutama yang berbahan plastik untuk dipisahkan dan dibuang ke tempat pembuangan sampah sementara selanjutnya ke pembuangan akhir.
  3. Bagi masyarakat yang memiliki rumah panggung, untuk tidak membuang sampah ke bawah jendela atau ke kolong rumah.
  4. Menampung air untuk keperluan rumah tangga perlu diminimalkan (seperlunya saja) atau ditutup rapat. Pengurasan perlu dilakukan untuk semua tempat penampungan air. Tempat penampungan air yang jarang dikuras atau tidak pernah dikuras sebaiknya diberikan bubuk abate, sebaliknya yang sering dikuras tidak
    perlu diberikan.
  5. Pembangunan perumahan perlu memperhitungkan jarak antara rumah satu dengan yang lainnya sesuai dengan persyaratan rumah sehat.
  6. Waspadai tempat-tempat selain tempat penampungan air yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak; talang air, pelepah daun, lubang-lubang pada batu, kayu, dan semen, retakan pada lantai yang tergenang air
    dan lain sebagainya.
  7. Waspadai perubahan lingkungan dan pola hidup masyarakat serba praktis yang menghasilkan sampah tidak ramah lingkungan.
  8. Perlunya dilakukan pemeriksaan jentik berkala selain perumahan juga di tempat-tempat umum seperti sekolah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.