Oleh : Restiana Alsyiah..

Hasil kajian HACCP pada tempat pengelolaan makanan di Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, hasil pemeriksaan makanan pada 40 tempat pengelolaan makanan menunjukkan bahwa masih terdapat bakteri salmonella dan bahan tambahan makanan yang berbahaya seperti formaldehida. Pemeriksaan pada alat makan 71% belum memenuhi syarat, sedangkan pada air minum dari segi bakteriologis 75% juga masih belum memenuhi syarat (BBTKLPP Banjarbaru, 2015).

Makanan jajanan di sekolah ternyata sangat beresiko terjadi cemaran biologis atau kimiawi yang banyak mengganggu kesehatan baik jangka pendek atau jangka panjang. Apalagi dalam waktu terakhir ini Badan POM telah mengungkapkan temuannya tentang berbagai bahan kimia berbahaya seperti formalin dan bahan pewarna tekstil pada bahan makanan yang ada di pasaran. Sehingga perilaku makan pada anak usia di sekolah harus dihatikan secara cermat dan serius.

Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Tumbuh berkembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantiítas yang baik serta benar.

Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Sering menimbulkan masalah terutama dalam pemberian makanan yang tidak benar dan menyimpang. Penyimpangan ini mengakibatkan gangguan pada banyak organ dan sistem tubuh anak.

Jajanan tidak hanya mengandung bahan berbahaya tapi juga bakteri seperti Salmonella paratyphy. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor ditemukan Salmonella paratyphy A di 25% – 50% sampel minuman yang dijual. Bakteri ini mungkin berasal dari es batu yang tidak dimasak terlebih dahulu. Persentase penyebab diare melalui perantara makanan adalah sebesar 70%. Sumber diare terbesar terdapat pada jajanan anak-anak sekolahan seperti bakso, gado-gado, mia ayam rames, siomay, dan soto ayam. Berdasarkan penelitian WHO tersebut, jajanan tersebut banyak mengandung patogen terbanyak yaitu E. coli (diare) 6,3%, S. aureus 3,72% dan diketahui juga mengandung Vibrio cholera (Kolera).

Hasil observasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jawa Barat, ternyata 80% dari jajanan yang di observasi mengandung bahan-bahan yang membahayakan kesehatan seperti formalin, borax, natrium siklamat, rodhamin dan sakarin.

Tempat dan waktu dilaksanakan kegiatan ini adalah 4 buah SD dan MIN yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah  Provinsi Kalimantan Selatan  pada tanggal 28 – 31 Maret 2016.

Karakteristik penjual jajanan di sekolah dasar di Kabupaten Hulu Sungai Tengah berdasarkan umur menunjukkan 35,29% penjual jajanan di sekolah dasar Kabupaten Hulu Sungai Tengah berusia 20-25  tahun dan hanya sebagian kecil (5,88%) berusia 56-61 tahun dan 62-67 tahun. Penjual jajanan sebagian besar (58,83%) berjenis kelamin laki-laki dan 41,17 % berjenis kelamin perempuan.

Sedangkan dilihat dari pendidikannya sebagian besar (52,94%) tamat SD dan hanya sebagian kecil (17,65%) tamat SLTA. Beberapa penelitian mengaitkan tingkat pendidikan penjamah makanan dengan kebersihan penjamah makanan. Penelitian Marsaulina (2004) menyimpulkan ada hubungan antara kebersihan dengan pendidikan, terutama setelah mencapai tingkat SMP.

Berdasarkan pada hasil penelitian dari 17 responden terdapat 76,47% responden telah bekerja sebagai pedagang jajanan  selama < 5 tahun dan hanya 5,88% responden telah berjualan lebih dari 12-17 tahun.

Dari kegiatan tersebut diperoleh hasil bahwa dari 30 sampel yang diambil terdapat 1 sampel yang positif mengandung bahan kimia tambahan berupa formalin. Kandungan bahan kimia yang berbahaya terutama formalin masih kita temukan terutama pada jajanan yang menggunakan ikan dan tepung tapioka sebagai bahan pengolahnya. Jajanan yang positif mengandung formalin adalah Empek-empek.

Berdasarkan hasil pemeriksaan ini kualitas jajanan sekolah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah terdapat jajanan sekolah yang belum memenuhi syarat berdasarkan Permenkes nomor 1168 /Menkes/Per/X/1999 tentang Bahan Tambahan Makanan,  karena masih ditemukan kandungan tambahan makanan di jajanan empek-empek pada SDN I Barabai Timur yang berbahaya yaitu formalin.

Dari hasil sejumlah  survey dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan menggunakan formalin sebagai pengawet misalnya ikan segar, ayam potong, mie basah, bakso, ikan asin dan tahu yang beredar di pasaran. Dampak formalin pada kesehatan manusia, dapat bersifat akut dan kronik. Dampak akut  yang efeknya pada kesehatan manusia terlihat langsung :

  1. Bila terhirup akan terjadi iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang paru dan pembengkakan paru. Tanda-tanda lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokan, sakit dada yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
  2. Bila terkena kulit akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.
  3. Bila terkena mata akan menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.
  4. Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma.  Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.

Dampak kronik terjadi setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan berulang seperti :

  1. Apabila terhirup dalam jangka waktu lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang.  Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan.  Kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.
  2. Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.
  3. Jika terkena mata, yang paling berbahaya adalah terjadinya radang selaput mata.
  4. Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.

Pemakaian formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala: sukar menelan, mual, sakit perut yang akut disertai muntah-muntah, mencret darah, timbulnya depresi susunan syaraf, atau gangguan peredaran darah. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah) dan haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian. Injeksi formalin dengan dosis 100 gr dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.

Formalin tidak termasuk dalam daftar bahan tambahan makanan (additive) pada Codex Alimentarius, maupun yang dikeluarkan oleh Kemenkes.  Humas Pengurus Besar Perhimpunan Dokter spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) menyatakan formalin mengandung 37% formalin dalam pelarut air dan biasanya juga mengandung 10 persen methanol. Formalin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, karena dapat menyebabkan kanker, mutagen yang menyebabkan perubahan sel dan jaringan tubuh, korosif dan iritatif. Berdasarkan penelitian WHO, kandungan formalin yang membahayakan sebesar 6 gram. Padahal rata-rata kandungan formalin yang terdapat pada mie basah 20 mg/kg mie.

 Kesimpulan

  1. Karakteristik penjaja jajanan menunjukkan 35,29% penjual jajanan di sekolah dasar dan MIN Kabupaten Hulu Sungai Tengah berusia 20-25 tahun,  58,83% berjenis kelamin laki-laki, 52,94% tamat SD, dan 76,47% responden telah bekerja sebagai pedagang jajanan  selama < 5 tahun.
  2. Berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas jajanan sekolah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah terdapat 1 dari 30  jajanan sekolah yang belum memenuhi syarat Permenkes nomor 1168 /Menkes/Per/X/1999 tentang Bahan Tambahan Makanan,  karena masih ditemukan kandungan tambahan makanan di jajanan empek-empek pada SDN I Barabai Timur.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.