Oleh : Wasul Falah

 

Workshop dilaksanakan pada tanggal 26 sd 28 Februari 2018 di Aston Tanjung Hotel, dibuka oleh Bapak Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong pada tanggal 26 Februari 2018 yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu doa, laporan ketua panitia, ucapan selamat datang sekaligus membuka acara workshop epidemiologi F.buski regional Kalimantan, foto bersama, dilanjutkan dengan persentasi, diskusi kesepakatan dan acara penutupan.

Peserta Workshop  Fasciolopsis buski sebanyak 74 orang, yang terdiri dari undangan : Narasumber pusat 1 orang, narasumber lokal 6 orang, Dinas Kesehatan Provinsi 2 orang, Laboratorium Kesehatan Daerah 2 orang, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat 2 orang, Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan 1 orang, Balai Veteriner 1 orang, Dinas Kesehatan Kabupaten 15 orang, Dinas Peternakan kabupaten 5 orang, Dinas Perikanan kabupaten 5 orang, Dinas Pendidikan kabupaten 1 orang, Puskesmas 12 orang, Kepala desa 7 orang, Kepala Sekolah Dasar 6 orang, PT ADARO 1 orang dan BBTKLPPP Banjarbaru 12 orang.

Selain itu ada juga peserta tambahan sebanyak 6 orang terdiri dari Balai Veteriner 1 orang, PT. ADARO 1 orang dan Dinas Kesehatan Batola 4 orang. Moderator workshop ini sebanyak 4 orang yang semuanya berasal dari BBTKLPP Banjarbaru.

 

DATA HASIL PENGAMATAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

Dari hasil persentasi narasumber pada Workshop Fasciolopsis Buski  dapat kita analisis data sebagai berikut :

  1. Persentasi kasus Fasciolopsis buski pada sasaran survei.

Hasil pemeriksaan sampel feces yang dilakukan oleh BBTKLPP Banjarbaru dan Balai Litbangkes P2B2 Tanah Bumbu dari tahun 2005 sampai dengan 2017 di kabupaten Hulu Sungai Utara. Pada tahun 2011 di dapatkan kasus Fasciolopsis tertinggi sebanyak 14 kasus positif ditemukan telur Fasciolopsis pada feces manusia (sampel) dan dalam 4 tahun terakhir tidak di temukan lagi kasus yang positif pada feces manusia.

 

  1. Adanya telur F.buski pada hewan ternak.

Hasil pemeriksaan feces binatang di Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 2016 di 3 yaitu Desa Parupukan, Desa Sungai Papuyu dan Desa Paminggir. Pada kegiatan Pengendalian Fasciolopsis buski oleh BBTKLPP Banjarbaru tahun 2016 ditemukan adanya telur trematoda yang mirip Fasciolopsis buski pada feces hewan seperti kerbau rawa dan kucing di desa paminggir dan desa parupukan di kabupaten Hulu Sungai Utara.

 

  1. Adanya serkaria pada keong air (Hospes Perantara).

Hasil pemeriksaan diketahui bahwa di Desa Rantau Kujang Kecamatan  Jenamas Kabupaten Barito Selatan pada Tahun 2014 di temukan serkaria Fasciolopsis buski pada keong Polinices sp dan Bithynia Sp. Dan berikut hasil pemeriksaan keong air yang dilakukan pada tahun 2016 oleh BBTKLPP Banjarbaru dapat dilihat di bawah ini :

 

Dilihat dari kegiatan Faktor Risiko Fasciolopsis buski tahun 2014 dan Program Pengendalian Fasciolopsis buski tahun 2016 masih terdapat adanya serkaria pada hospes perantara keong air (Apple sp, Marisa sp, Polineces sp, Bithynia sp) di kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Barito Selatan.

 

  1. Gambaran Personal Hygine.

 

Dari data di atas dapat dlihat masih tingginya beberapa perilaku yang berisiko kecacingan Fasciolopsis buski seperti BAB di rawa 7,3%, BAB di sungai 55,1 %, tidak cuci tangan pakai sabun setelah BAB sebanyak 60,9%, konsumsi air mentah 8,7% dan konsumsi sayur mentah 11,6%.

Dari hasil wawancara kepada anak sekolah di wilayah desa parupukan, sungai papuyu dan Kelumpang luar maka didapatkan hasil bahwa angka anak sekolah dasar yang minum air mentah masih tinggi di desa parupukan sebanyak 32,7%, sungai papuyu 23,1% dan Kelumpang Luar sebanyak 20%. Presentase Perilaku Kebiasaan Buang Tinja di 3 Desa yaitu Desa Parupukan, Desa Sungai Papuyu.

Perilaku yang berkaitan dengan kebiasaan buang tinja dengan sasaran anak sekolah di 3 desa di kabupaten HSU didapatkan bahwa untuk desa Kelumpang Luar sudah 100 % menggunakan WC, sedangkan di desa Sungai Papuyu sebanyak 4% BAB di rawa, dan Desa Parupukan 23% BAB di rawa.

  1. Gambaran Fasciolopsis buski

Dari hasil analisis di atas dapat kita simpulkan bahwa :

  1. Penyakit Fasciolopsis buski merupakan local spesifik di kabupaten Hulu Sungai Utara.
  2. Penyebaran Fasciolopsis buski dimungkinkan pada daerah rawa dan aliran sungai yang berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Utara dan mengalir ke kabupaten lain di provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
  3. Dalam 3 tahun terakhir sudah tidak ditemukan kasus Fasciolopsis buski pada manusia dan tanaman air, tapi pada hospes perantara keong air masih ditemukan adanya serkaria dan ditemukan adanya telur Fasciolopsis buski pada feces kerbau rawa dan kucing yang masih bisa memungkinkan sumber infeksi pada manusia.

 

KESIMPULAN

  • Bahwa Fasciolospsis buski saat ini ditemukan dan terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Utara tetapi kenyataan dan tidak menetap kemungkinan dapat menginfeksi pada penduduk yang dialiri sungai/rawa seperti Kabupaten Barito Selatan, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Barito Kuala.
  • Seluruh peserta sepakat perlu dilakukan upaya-upaya untuk edukasi pada masyarakat agar terlindungi dari Fasciolospsis buski.

 

REKOMENDASI.

Dalam upaya pencegahan dan pengendalian Fasciolopsis Buski secara komprehensif, terintegrasi dan memanfaatkan kearifan local maka dirumuskan butir-butir kesepakatan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing, yaitu :

  1. Ditjen P2P
  2. Pengembangan pedoman/juknis program pengendalian F. buski.
  3. Dukungan sumber daya, logistik, termasuk obat.
  4. Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKLPP) Banjarbaru
  5. Melakukan surveilans epidemiologi penyakit F. Buski pada manusia dan hospes perantara.
  6. Secara berkala perlu melakukan koordinasi dan pertemuan dalam rangka pencegahan dan pengendalian F.Buski.
  7. Dinkes Provinsi Kalsel dan Kalteng.
  8. Pengembangan program secara intensif untuk upaya pencegahan dan pengendalian F.buski.
  9. Mengalokasikan dana yang cukup untuk upaya pencegahan dan pengendalian F.buski.
  10. Melakukan sosialisasi PHBS dan termasuk edukasi pada masyarakat.
  11. Dinkes Kabupaten/Puskesmas.
  12. Pemantauan F. buski di wilayah kerjanya masing-masing.
  13. Melakukan survey prevalensi pada komunitas.
  14. Penyediaan sumber dana.
  15. Melakukan sosialisasi PHBS dan termasuk edukasi pada masyarakat serta uapay pencegahan dan pengendalian.
  16. Deteksi dini suspek F.buski (pemeriksaan feces) bagi pasien diare.
  17. Balai Veteriner Banjarbaru.

Melakukan surveilans penyakit parasiter pada hewan ternak.

  1. Dinas Peternakan.
  2. Meningkatkan pengawasan kesehatan hewan.
  3. Meningkatkan pengawasan bahan pangan asal hewan
  4. Balitbangda

Memperkuat kebijakan daerah untuk penanganan dan sosialisasi F.buski pada masyarakat.

  1. Labkesda provinsi

Melakukan pemeriksaan rujukan terkait F.buski.

  1. Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Melakukan penelitian-penelitian terkait F.buski.

  1. Balai Penelitian dan Pengembangan P2B2 Tanah Bumbu.

Melakukan penelitian terkait dengan sebaran F.buski dan kecacingan lainnya di kabupaten HSU dan sekitarnya.

  1. Dinas Pendidikan/Sekolah Dasar

Promosi/penyuluhan/pendidikan PHBS, CTPS.  Stop BABS, dan penggunaan alas kaki.

  1. Kepala Desa
  2. Mendorong keluarga untuk melaksanakan PHBS.
  3. Mendorong masyarakat menggunakan air bersih dan jamban sehat.
  4. PT ADARO Indonesia site Balangan
  5. Melakukan kampanye kesehatan kepada karyawan dan masyarakat.
  6. Mendukung upaya pencegahan dan pengendalian F.buski.[wasul falah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.