Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan Program Eliminasi Filariasis tahun 2020 dan eliminasi malaria tahun 2030, sehingga dalam rangka pencapaian target regional P2P sesuai dengan kesepakatan regional dan global maka diperlukan upaya peningkatan kompetensi teknis entomolog sebagai ujung tombak pengendalian vektor.

Pentingnya entomolog memiliki pengetahuan dan skill yang baik dalam pelaksanaan survei vektor, metodologi konfirmasi vektor serta pemetaan vektor filariasis, malaria dan penyakit tular vektor lainnya,  dalam mendukung program  menjadi latar belakang dilakukannya pertemuan koordinasi teknis instalasi entomologi yang ada di B/BTKLPP dan KKP dalam mendukung eliminasi filariasis, malaria dan penyakit tular vektor lainnya

Dengan memperkuat dan memantapkan kompetensi teknis petugas entomolog B/BTKLPP , KKP regional  dan Dinas Kesehatan di wilayah layanan, diharapkan dapat lebih meningkatkan peran BBTKLPP dan KKP dalam program pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor.

Pemaparan mengenai peran BBTKLPP dalam program pengendalian vektor dengan pembicara dari Kepala BBTKLPP Banjarbaru, dilanjutkan pemaparan dari Kasubdit PV&BPP tentang peran entomolog kesehatan dalam menerapkan Permenkes No.50 Tahun 2017, session ini dimoderatori oleh Kepala Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan BBTKLPP Banjarbaru.

Dalam paparannya Kepala BBTKLPP Banjarbaru menjelaskan bahwa BBTKLPP Banjarbaru ditunjuk oleh Dirjen P2P sebagai Pusat Layanan Unggulan Surveilans Penyakit Menular (PLUSPM) dengan diterbitkannya SK Dirjen P2P No. HK.02.02/I/2632/2017. Tujuan umum dari PLUSPM ini adalah meningkatnya layanan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit di wilayah layanan. Sedangkan Tujuan khususnya adalah meningkatnya layanan surveilans penyakit menular (Malaria, DBD dan Filaria lalu Lepto & Hepatitis Virus), dan meningkatnya kemampuan  dalam pelaksanaan surveilans penyakit menular (Malaria, DBD dan Filaria, lalu Lepto dan Hepatitis Virus). BBTKLPP Banjarbaru menuju laboratorium kesehatan masyarakat akan memerlukan dukungan keahlian, sarana prasarana termasuk laboratorium itu sendiri. Pelaksanaan kegiatan BBTKLPP Banjarbaru diantaranya adalah survei perilaku vektor DBD di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Kapuas, dan teknologi pengendalian vektornya berupa Light Trap (pengendalian vektor nyamuk), dan Ovitrap bambu (pengendalian vektor Aedes spp).

Paparan berikutnya adalah tentang peran entomolog kesehatan dalam menerapkan Permenkes No.50 Tahun 2017 yang disampaikan oleh Kasubdit PV&BPP berisi tentang situasi penyakit tular vektor dan zoonotik, masalah dan tantangan vektor binatang pembawa penyakit, dan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit. Sehingga pengendalian vektor harus dilakukan secara terintegrasi/terpadu agar lebih efektif, ekonomis, berkelanjutan dan cakupan yang luas, serta keberhasilan pengendalian vektor terpadu harus didukung dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan dan komitmen yang tinggi lintas sektor dan lintas program.

BBPVRP Salatiga menyampaikan materi tentang Survei Reseptivitas Malaria dan dilanjutkan dengan materi Survei Vektor (Filariasis, Malaria, DBD) dan Konfirmasi Vektor. Surveilans vektor merupakan satu kegiatan penting dalam eliminasi malaria baik untuk penentuan dan target intervensi pada fokus penularan malaria dan memonitor pengaruh intervensi. Surveillans vektor adalah kegiatan sangat kritis/critical, sehingga perlu dipandu target intervensi pada focus tertentu, monitoring bionomik vektor, termasuk kelimpahan/kepadatan, perilaku mencari darah (feeding) dan istirahat (resting), serta resistensi insektisida. Survei dan konfirmasi vektor ada 2 cara yang sering dilakukan yaitu secara konvensional (pebedahan kelenjar ludah nyamuk) dan secara elisa (enzym linked immunosorbent assay).

Sedangkan Materi Geographic Information System (GIS) yang disampaikan oleh bagian akademisi dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Menjelaskan bahwa arti penting pemetaan dalam epidemiologi yaitu pemetaan memberikan gambaran hubungan spasial antar unsur unsur epidemiologi, hubungan spasial atau ke ruangan ini membutuhkan perangkat yang mampu menggambarkan secara baik dan memodelkannya dalam pandang ke ruangan, karena keberadaan suatu fenomena berkaitan dengan keberadaan fenomena lainnya, peta yang saat ini berkembang sebagai GIS (geographical Information Systems) / SIG (Sistem informasi Geografis), membantu memberikan gambaran keberadaan objek atau fenomena dan selanjutnya dapat melakukan analisis secara keruangan yang diujudkan menjadi model spasial dan dikelola dan diolah secara spasial.

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan peta adalah format data benar dan sama standarnya, agar bisa diaplikasikan, sesuai dengan standar yang berlaku, dan jika dilakukan (dalam aplikasi yang sama umumnya sudah disesuaikan dengan format aplikasi tersebut).

 

Rencana Tindak Lanjut

Berdasarkan paparan narasumber pada pertemuan ini, maka dirumuskan butir-butir kesepakatan sesuai tugas dan peran masing-masing sebagai langkah percepatan program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit antara lain sebagai berikut:

 

  1. Direktorat PPTVZ Ditjen P2P
  • Perlunya pembinaan serta peningkatan kuantitas dan kualitas entomologi kesehatan secara berkala baik di tingkat nasional, regional, provinsi dan Kabupaten atau Kota.
  • Perlunya dibentuk organisasi profesi entomologi kesehatan dan ditingkatkan peran organisasi profesi entomologi kesehatan
    1. B/BTKLPP
  • Melakukan sinkronisasi dan koordinasi program/kegiatan pengendalian penyakit tular vektor zoonotik di wilayah layanan.
  • Laboratorium rujukan dalam hal konfirmasi vektor di wilayah layanan
  • Memfasilitasi pertemuan koordinasi teknis instansi entomologi secara bergantian pada B/BTKLPP setiap tahunnya.
  • Melakukan peningkatan SDM dalam rangka mendukung pengendalian dan pencegahan penyakit tular vektor dan zoonotik.
  • Memfasilitasi kegiatan peningkatan SDM entomologi kesehatan di wilayah layanan
  • Optimalisasi fungsi entomolog kesehatan dalam kegiatan pengendalian vektor di wilayah layanan.
  • Membentuk jejaring kerja entomologi kesehatan di wilayah layanan.
  1. Dinkes Provinsi/Kab/Kota
  • Optimalisasi peran entomologi kesehatan dalam kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan binatang pembawa penyakit.
  • Sharing data tentang program pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan binatang pembawa penyakit dengan B/BTKLPP dan KKP di wilayahnya.
  • Upaya pencegahan dan pengendalian penyakt tular vektor zoonotik secara konprehensif.
  • Mengalokasikan anggaran di APBD dan DAK NON FISIK/FISIK serta sumber dana lain yang tidak mengikat untuk upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor zoonotik secara komprehensif.
    1. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)
  • Melakukan kegiata pengendalian vektor di wilayah pelabuhan, bandara dan lintas batas darat serta berkoordinasi dengan lintas sektor terkait terdekat
  • Sharing data tentang program pencegahan dan pengendalian penyakit tular vector dengan B/BTKLPP dan Dinaskes Prov/Kab/Kota di wilayahnya
  • Melakukan peningkatan kualitas SDM
  • Mengirim sampel hasil vektor dan binatang pembawa penyakit ke B/BTKLPP
    1. Poltekkes Banjarmasin
  • Melakukan fasilitasi dalam pengembangan SDM (diklat teknis) fungsional entomologi.
  • Meningkatkan kemampuan mahasiswa di bidang pengendalian vektor melalui penulisan karya tulis.

Dengan adaya kegiatan Pertemuan Koordinasi Teknis Instalasi Entomologi Dalam Menunjang Eliminasi Filariasis dan Malaria Tahun 2018 diharapkan peserta pertemuan dapat menerapkan materi yang didapat dari pertemuan ini dalam pelaksanaan program pengendalian tular vektor dan zoonotik. Untuk tahun berikutnya pertemuan serupa diharapkan dapat dilaksanakan baik secara nasional maupun regional, sebagai upaya peningkatan kompetensi entomolog kesehatan.[Risdiana Sandi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.