Pada tahun 2015 di wilayah Propinsi Kalimantan Timur ditemukan jumlah kasus baru tuberkulosis BTA+ sebanyak 4.092 kasus. Tahun 2015 proporsi pasien tuberkulosis paru terkonfirmasi bakteriologis di antara semua pasien tuberkulosis paru tercatat/diobati belum mencapai target yang diharapkan karena hanya mencapai 53,4% dari target nasional 70%. Di tahun 2015 penemuan kasus TB BTA+ di Kota Samarinda sebanyak 462 kasus, terdiri dari 301 kasus laki-laki dan 161 kasus pada perempuan. Kasus TB BTA+ paling banyak ditemukan di Kecamatan Samarinda Ulu dengan jumlah kasus 140 kasus, paling banyak kedua ditemukan kasus sebanyak 75 kasus di Kecamatan Samarinda Utara, kemudian yang ketiga di Kecamatan Samarinda Seberang dengan kasus sebanyak 61 kasus, keempat Kecamatan Sei Kunjang sebanyak 48 kasus, dan urutan kelima Kecamatan Sei Pinang sebanyak 47 kasus.

Dari keseluruhan kasus baru, jumlah laki-laki yang menderita TB BTA+ lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kasus pada perempuan. Persentase penderita laki-laki sebesar 65% dibandingkan perempuan yang hanya 35% pada kasus baru BTA+ (Dinas Kesehatan Kota Samarinda tahun 2015).

Laporan triwulan keempat penemuan dan pengobatan pasien TB diwilayah Dinkes Kota Samarinda tahun 2016 tercatat ada 1.038 kasus TB paru, dengan BTA+/positif sebanyak 457 kasus (Dinas Kesehatan Kota Samarinda tahun 2016).

Tempat pelaksanaan kajian dan surveilans faktor risiko kejadian TB Paru adalah di wilayah kerja Puskesmas Temindung Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Waktu pelaksanaan kegiatan pada tanggal 02-05 Mei 2017.

 

Kesimpulan dari pelaksanaan kegiatan tersebut adalah:

  1. Hasil uji statistik menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara suhu ruang, kelembaban udara, dan perilaku kebiasaan membuka jendela pada siang hari dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Temindung Kota Samarinda.
  2. Hasil uji statistik menyatakan ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara pencahayaan, ventilasi ruang, kepadatan hunian kamar yang tidak memenuhi syarat, perilaku kebiasaan tidur sekamar dengan anggota keluarga yang lain, perilaku kebiaaan memakai masker, perilaku kebiasaan merokok, perilaku kebiasaan memakai alat makan tidak terpisah, dan perilaku kebiasaan membuang dahak sembarangan dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Temindung Kota Samarinda

 

Rekomendasi

  1. Penderita/Masyarakat
  • Menjaga dan memperhatikan kondisi fisik rumah dengan sering membuka jendela.
  • Tidak meludah sembarangan, membuang sputum pada suatu wadah, agar tidak menjadi media penularan penyakit Tb. Paru ke orang lain.
  • Berperilaku hidup bersih dan sehat untuk pencegahan penularan TB Paru ke orang lain
  • menjaga kontak terhadap keluarganya yang sehat untuk sementara selama pengobatan.
  1. Puskesmas
  • Memberikan penyuluhan pada masyarakat dan penderita Tb tentang bahaya merokok, perilaku hidup bersih dan sehat termasuk menutup mulut saat batuk, dan tidak membuang dahak sembarangan.
  • Memberikan penyuluhan mengenai perbaikan kualitas lingkungan fisik rumah dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
  1. Dinas Kesehatan
  • Hasil laporan (analisa data) kegiatan sebagai bahan informasi untuk menyusun perencanaan kegiatan penanggulangan TB Paru.[Risdiana Sandi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.