oleh : Rasuna Harinie

Sumber limbah cair yang diolah di instalasi pengolahan air limbah (IPAL) BBTKLPP Banjarbaru berasal dari 5 laboratorium yaitu: Laboratorium Faktor Resiko, Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Parasitologi, Laboratorium Entomologi, dan Laboratorium Virologi dan Imunologi. Aktivitas laboratorium yang menghasilkan limbah terutama mulai dari persiapan sampel untuk pengujian, kegiatan pengujian, dan pencucian glassware (alat-alat yang terbuat dari bahan gelas) pasca pengujian yang menggunakan bahan-bahan kimia utama dan pendukung. Jenis bahan kimia yang umum dipakai berupa bahan kimia bersifat asam, basa, organik dan anorganik.
IPAL BBTKLPP Banjarbaru memiliki volume limbah yang dihasilkan rata-rata per hari sebesar 1,4 m3. Sedangkan bak pengumpul mempunyai volume sebesar 15 m3/hari sehingga rata-rata dalam waktu 2 minggu sekali air limbah diolah. Sistem pengolahan dibuat secara otomatis yang bekerja berdasarkan level air bila di dalam bak pengumpul naik pada level tertentu secara otomatis pompa submersible, dosing pump dan blower pump akan bekerja dan mengalirkah air limbah ke IPAL selanjutnya pompa akan berhenti bekerja pada level air tertentu.
Jar Test dilakukan untuk menentukan jumlah optimal bahan koagulan dan kapur yang diperlukan dalam proses pengolahan. Uji coba ini diperlukan agar penentuan dosis bahan yang diperlukan dalam proses pengolahan harus sesuai dengan karakteristik dari air baku limbah yang akan diolah.
Tahapan pengolahan yang telah dilakukan diperoleh data-data sebagai berikut:
a. Metode pengolahan pada IPAL mengunakan proses pengolahan secara fisik dan kimia yang terdiri dari koagulasi-flokulasi, aerasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi.
b. Debit aliran air pada IPAL sebesar 0,143 L/detik.
c. Waktu tunggu pengolahan sekitar 13 jam 12 menit.
d. Injeksi larutan PAC 10% dengan debit 30 ml/menit menggunakan dosing pump.
e. Melarutkan kapur rata-rata 8 Kg (pH air baku yang diinginkan dalam pengolahan antara pH 9 – 10) di bak penampungan awal.
f. Memompakan udara untuk proses aerasi menggunakan blower pump di bak koagulasi.
g. Melakukan filtrasi menggunakan gabungan beberapa bahan yang terdiri dari yang paling bawah pasir kuarsa, lapisan tengah arang aktif dan lapisan atas batu zeolit, ketinggian bahan filter ini 60 cm.
h. Melakukan desinfeksi berbahan khlor menggunakan chlorine diffuser.
i. Pengolahan dilakukan 2 minggu sekali.

Proses Pengolahan:
1. Bak pengumpul berfungsi sebagai pengumpul limbah dari ketiga sumber limbah (laboratorium Faktor Risiko dan laboratorium Mikrobiologi). Di dalam bak pengumpul dipasang radar kontrol dan pompa submersible. Di bak pengumpul ini dilarutkan Kapur hingga mencapai pH antara 9–10, dengan maksud agar pada saat dialirkan pada bak koagulasi kerja dari bahan koagulan (PAC) bisa maksimal.
2. Bak koagulasi berfungsi mencampur antara PAC dengan air limbah. Pencampuran PAC secara mekanis dengan menggunakan blower pump, sedangkan injeksi bahan tawas menggunakan dosing pump. Pada bak ini terjadi pembentukan flok-flok.
3. Bak flokulasi berfungsi memberi kesempatan flok-flok kecil bertemu dan saling berikatan menjadi flok yang lebih besar sehingga mudah mengendap.
4. Bak Sedimentasi berfungsi mengendapkan flok-flok.
5. Bak filtrasi berguna untuk memfilter bahan-bahan yang masih belum mengendap pada bak sedimentasi.
6. Bak desinfeksi berfungsi mendesinfeksi (membunuh bakteri pathogen) dalam air limbah. Proses desinfeksi menggunakan chlorine diffuser dengan cara merendam alat clorin diffuser ke dalam bak.
7. Bak bio indikator. Sebelum dibuang ke lingkungan air limbah diuji dengan indikator ikan. Bila ikan hidup pada bak ini berarti limbah aman dibuang.

1. Proses Pengolahan Air Limbah
Proses pengolahan air limbah laboratorium BBTKLPP Banjarbaru dimulai dari mengumpulkan air limbah dari masing-masing sumber yaitu: Laboratorium Faktor Risiko, Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Parasitologi, Laboratorium Entomologi dan Laboratorium Virologi dan Imunologi ditampung dalam bak pengumpul. Pada bak pengumpul ini dimasukkan larutan kapur dengan tujuan untuk mengendalikan pH sehingga proses koagulasi/flokulasi dapat maksimal dilakukan. Selanjutnya air limbah dipompa ke atas dan dilakukan proses kimia dengan diinjeksi larutan PAC sebagai koagulan di dalam bak koagulator. Di dalam bak ini juga diinjeksikan oksigen yang selain berfungsi mencampur bahan kimia juga untuk menambahkan kadar DO dalam air.
Setelah proses koagulasi-flokulasi selanjutnya air limbah mengalir secara up flow ke bak berikutnya dan mengalir lagi secara down flow begitu seterusnya sampai ke 6 bak pengendap (sedimentasi). Tujuannya untuk memisahkan suspensi partikel dari limbah cair dengan cara mengendapkannya secara gravitasi. Partikel-partikel tersebut memiliki berat jenis yang lebih besar dari berat jenis air. Pengendapan dilakukan dengan mendiamkan air sampai gumpalan/flok mengendap semua (45 – 60 menit).
Dari bak sedimentasi kemudian air limbah mengalir secara up flow ke bak filtrasi. Filtrasi berfungsi untuk menurunkan kadar padatan tersuspensi dalam air atau air limbah. Penurunan padatan tersuspensi tersebut dilakukan dengan cara fisika melalui proses penyaringan melalui media seperti pasir dan kerikil.
Setelah melalui filtrasi air limbah mengalir lagi secara down flow ke bak selanjutnya, di sini air dibubuhi klorin dengan cara merendam alat clorin diffuser. Pembubuhan klorin ini berfungsi membunuh bakteri pathogen. Selain sebagai desinfektan, klorin juga banyak digunakan sebagai oksidator untuk menghilangkan bau dan rasa serta untuk mengoksidasi Fe(II) dan Mn(II) menjadi Fe(III) dan Mn(III). Selain dengan klorin proses filtrasi dan sedimentasi juga dapat menurunkan E.coli pada air limbah. Dari bak ini air dialirkan lagi secara upflow dan mengalir lagi secara down flow secara bergantian pada 3 buah bak sedimentasi. Selanjutnya air dialirkan ke bak bio indikator yang diberi ikan.

2. Kualitas Influen Air Limbah
Untuk melihat kualitas efluen air limbah laboratorium diambil pada bak pengumpul. Dari pengujian air sebelum pengolahan pada IPAL BBTKLPP Banjarbaru diketahui beberapa parameter telah melebihi ketentuan yaitu baku mutu berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. 04 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah. Pada pengukuran di periode Maret 2017 parameter yang melebihi baku mutu adalah NH3-N dan COD. Untuk pengukuran periode Mei 2016 parameter yang melebihi baku mutu adalah NH3-N, BOD, dan COD, sedangkan pada pengukuran periode Agustus 2017 parameter yang melebihi baku mutu terdiri dari NH3-N. Periode November parameter yang melebihi baku mutu adalah COD. Hal ini sesuai dengan karakteristik air limbah laboratorium yang memang menghasilkan buangan dari pengujian parameter-parameter tersebut. Adapun sebagian besar parameter lainnya masih memenuhi ketentuan tersebut, sedangkan untuk parameter minyak lemak dan Coliform tidak dipersyaratkan dalam baku mutu. Beberapa parameter memperlihatkan konsentrasi dengan nilai kurang dari limit deteksi. Pada periode Maret 2017 parameter tersebut adalah Fe, F, Cd, Mn, Co, Hg, As, Zn, Cu, Pb, Ni, Co dan Cr sedangkan pada periode Mei 2017 parameter Minyak & Lemak Cd, Mn, Co, As, Zn, Cu, Pb, Ni, Co, Cr dan Cr valensi VI konsentrasinya kurang dari limit deteksi. Kondisi di atas mengindikasikan bahwa konsentrasi pada parameter tersebut sangat kecil dan jauh di bawah baku mutu. Pada periode Agustus 2017 parameter tersebut adalah F, Cd, Co, As, Zn, Cu, Pb, Ni dan Co. Pada periode Nopember 2017 parameter Cd, Co, As, Cu, Pb, Ni dan Co dan Cr valensi VI.

3. Kualitas Efluen Air Limbah
Kualitas air limbah yang mewakili kualitas efluen diambil pada bak bio indikator. Pada pengujian air sesudah pengolahan terjadi penurunan pada beberapa parameter dan kenaikan pada parameter lain. Pada periode Maret 2017 terjadi penurunan pada parameter TSS, NH3-N, Fe, COD, BOD, Cr valensi VI dan Coliform. Pada periode Mei 2017 terjadi penurunan pada parameter TSS, NH3-N , Fe, F, NO2-N, Mn, BOD,COD, Zn, Cu dan Cr valensi VI. Sedangkan pada bulan Agustus 2017 parameter yang mengalami penurunan adalah parameter TSS, NH3-N, COD, BOD, Zn, Minyak dan Lemak serta Coliform. Untuk parameter yang mengalami kenaikan bisa dilihat berturut-turut pada periode Maret 2017 adalah parameter Mn, periode Mei 2017 adalah parameter pH. Pada periode Agustus 2017 adalah parameter pH dan pada periode November tidak ada yang mengalami kenaikan. Walaupun dalam tiga periode mengalami kenaikan, parameter di atas masih berada di bawah baku mutu limbah cair yang dipersyaratkan. Pada beberapa parameter pengujian juga ada menghasilkan konsentrasi kurang dari limit deteksi.
Pada bak bio indikator diberi ikan mas hias sebagai indikator tercemar tidaknya air limbah setelah pengolahan. Pada bak indikator ini terlihat ikan tetap hidup dan beraktivitas dengan baik berarti air limbah benar-benar aman dibuang ke lingkungan.

4. Efisiensi Pengolahan
Dengan melihat konsentrasi air sebelum dan sesudah pengolahan, maka dapat dilihat efisiensi dari pengolahan tersebut. Namun karena beberapa parameter menghasilkan konsentrasi yang kurang dari limit deteksi maka tidak dapat dilihat efisiensi proses pengolahannya. Efisiensi pengolahan untuk masing-masing parameter adalah:
• Bulan Maret
Dari hasil pengolahan yang dilakukan diperoleh efisiensi pengolahan untuk parameter TSS 46,15%, NH3-N 99,40%, COD 74%, BOD 86%, Cr valensi VI 92% dan coliform 160%.
Terjadi penurunan nilai Coliform yang cukup tinggi yakni dari > 160.000 MPN/100 mL menjadi <1600 MPN/100 mL. Untuk parameter Flourida belum menunjukan penurunan tetapi masih dibawah buku mutu yang dipersyaratkan yaitu Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. 04 tahun 2007 tentang Baku Mutu Air. • Bulan Mei Hasil Pengolahan yang dilakukan diperoleh efisiensi pengolahan untuk parameter TSS 99,8%, NH3 –N 0,14%, Fe 14%, F 92,7%, Mn 134%, BOD 96% COD 93%, Zn 5%, Cu 88%, Cr valensi VI 92% dan Coliform 100%. • Bulan Agustus Hasil Pengolahan yang dilakukan diperoleh efisiensi pengolahan untuk parameter TSS 30%, NH3 –N 73%, Fe 99,15%, Mn 99,72%, BOD 73% COD 77%, Zn 75%, Cr 40,7%, Minyak dan Lemak 75% dan Coliform 160%. • Bulan Nopember Hasil Pengolahan yang dilakukan diperoleh efisiensi pengolahan untuk parameter TSS 46,15%, NH3-N 66,57%,COD 50%, BOD 255%, Zn 96,57%, Minyak dan Lemak 96,07% serta coliform 100%. Untuk pemeriksaan biologi terjadi penurunan nilai Coliform yang cukup tinggi yakni dari >160.000MPN/100 mL menjadi <1,8 MPN/100 mL. Dari hasil pemantauan IPAL yang di lakukan, efisiensi IPAL berjalan sesuai dengan yang diharapkan (efisiensi coliform = 100%). Hal ini terjadi karena proses desinfeksi berjalan dengan baik. Desinfeksi merupakan proses pembunuhan bakteri patogen (bakteri penyebab penyakit) yang penyebarannya melalui air. Desinfeksi (proses chlorinasi) biasanya diaplikasikan pada tahap akhir setelah unit penjernihan (clarifikasi) dalam satu pengolahan air minum (Ningsih H, 2005) selain itu parameter yang lain masih di bawah baku mutu karena proses filtrasi dan sedimentasi. Proses pengolahan selama ini, sampel inletnya merupakan air limbah yang sudah diperlakukan pra pengolahan yaitu penetralan sebelumnya sehingga perlu adanya injeksi kapur pada bak inlet sebagai tempat pengambilan sampel nantinya.[Rasuna Hartinie]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.