Untuk mengetahui ada tidaknya tikus pada suatu tempat dan mencegah kemungkinan bahaya dari makanan yang tercemar oleh tikus adalah sebagai berikut :

1.   Droping. Adanya kotoran tikus yang ditemukan di tempat/ruangan yang diperiksa. Tinja tikus mudah dikenal dari bentuk dan warna yang khas, tanpa disertai bau yang mencolok, tinja tikus yang masih baru lebih terang dan mengkilap serta lebih lembut (agak lunak), makin lama maka tinja akan semakin keras.

2.   Run ways. Jalan yang biasa dilalui tikus dari waktu ke waktu disuatu tempat disebut run ways. Tikus mempunyai kebiasaan melalui jalan yang sama, bila melalui lubang diantara eternit rumah, maka jalan yang dilaluinya lambat laun menjadi hitam.

3.   Grawing.  Grawing merupakan bekas gigitan yang dapat ditemukan, tikus dalam aktivitasnya akan melakukan gigitan baik untuk makan maupun membuat jalan misalnya lubang dinding.

4.   Borrow. Borrow adalah lubang yang terdapat pada sekitar beradanya tikus seperti dinding, lantai, perabotan dan lain-lain.

5.   Bau. Tikus akan mengeluarkan bau yang disebabkan oleh tubuh tikus atau urinnya.

6.   Tikus hidup. Tikus hidup akan berkeliaran walaupun hanya sebentar.

7.   Ditemukannya bangkai tikus baru atau lama di tempat yang diamati.

Pengendalian Tikus dengan Rodentisida.

1.  Pengendalian tikus dengan cara pemberian umpan yang diletakkan dalam wadah kotak umpan (Trays Bait) dengan ukuran 10 x 7 cm khusus dengan modifikasi dua jenis rodentisida yang bersifat acut dan anticoagulan dengan campuran umpan garin (beras, roti kering dan jagung) yang dipasang pada sisi tembok dalam dan luar ruangan terutama pada lokasi yang banyak dijumpai indikasi untuk jalannya tikus dan juga dapat diletakkan di atas plafon.

2. Efek yang ditimbulkan dari perpaduan 2 (dua) jenis rodentisida tersebut. Setelah tikus makan umpan, tikus tidak langsung mati, jika tikus sedang menyusui maka anak – anaknya ikut teracuni. Disatu sisi tikus akan terserang penyempitan pembuluh darah dan akan merasakan penuaan lebih dini. Dan sisi lainnya tikus akan merasa mati tua. Modifikasi ini sangat efektif sekali mengingat untuk mengantisipasi sifat tikus yang jera umpan (Toxicant Syienens) dan gampang curiga (Neophobia).

Pembuatan alat

a.  Bahan dan Alat Survei

  • Ember bekas Cat ukuran 25 kg yang berdiameter kurang lebih 35 cm   serta tinggi kurang lebih 50 cm.
    • Botol bekas Minuman/ Kaleng bekas minuman.
    • Besi beton ukuran 10 mili.
    • Ring kayu.
    • Selai Coklat Kacang
    • Minyak goreng.
    • Sarung tangan
    • Plastik klip

b. Cara Pembuatan

  • Ember cat besar yang 25 kg dibersihkan dicuci dengan sabun/diterjen.
    • Persiapkan botol kecil plastik
  • Persiapkan besi ukuran 10 inchi di potong sesuai diameter permukaan Ember.
  •  Siapkan Boor elektrik untuk membua lobang di sisi kiri kanan bagian atas ember.
  • ring kayu sesuai kebutuhan yang ditaruh pada ember yang berguna sebagai tangga panjatan tikus.
  • Dimasukkan minyak goreng untuk mengisi bagian dalam ember secukupnya.

2. Uji coba skala Lab

                        Pada uji coba skala laboratorium yang dilaksanakan terdapat kekurangan, yaitu ember bekas cat yang digunakan terlalu rendah sehingga menyebabkan tikus yang terperangkap dapat meloncat keluar. Sehingga dilakukan perbaikan dengan mengganti ember bekas cat dengan yang lebih tinggi.

3. Uji coba lapangan

Kondisi lingkungan dan masyarakat kota Banjarmasin yang demikian, dapat berpotensi terhadap terjadinya wabah leptospirosis apabila terdapat reservoir dengan populasi yang cukup tinggi. Desa Alalak yang berada di Kecamatan Banjarmasin timur dengan kondisi pemukiman yang padat dengan sanitasi yang minim sangat berpotensi terhadap tingginya populasi tikus.

 4. Pelaksanaan

  • Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan  Kota Banjarmasin, Puskesmas         dan aparat desa Alalak.
    • Pelaksanaan Survei/Pemasangan alat perangkap ini dilakukan                    di lingkungan perumahan penduduk yang masih di wilayah Desa Alalak Tengah  pada tanggal 23 sd 26 Oktober dengan waktu pemasangan selama 24 jam selama 4 hari berturut – turut dengan kegiatan :
  • Mempersiapkan alat TTG perangkap tikus
  • Memberikan pemahaman kepada masyarakat yang rumahnya di jadikan titik pemasangan.
  • Meletakkan alat pada posisi yang strategis.
  • Pengontrolan alat dilakukan setiap pagi hari untuk memantau tikus yang terperangkap.

     Uji Coba Lapangan    Pemasangan alat Teknologi Tepat Guna perangkap tikus yang diuji coba ini dilaksanakan di rumah – rumah penduduk  RT/03 dan RT.06  Desa Alalak Tengah selama 4 hari keja dari tanggal 23 Oktober s/d 26 Oktober 2018. Dari uji coba lapangan yang dilakukan terdapat 11 tikus yang terperangkap (7 ekor lolos dan 4 ekor tidak lolos).

Pembahasan

Dilihat dari hasi uji coba alat perangkap tikus, menunjukkan jenis tikus yang tidak berhasil lolos adalah tikus yang berukuran sedang sampai dengan kecil, sedangkan tikus yang berhasil lolos adalah tikus yang berukuran besar yang mampu menjangkau makanan/atraktan dibagian tengah perangkap tanpa terperangkap, makanan yang dioleskan pada botol yang berputar bisa dijangkau dikarenakan kaki belakang masih dapat berpijak pada tangga kayu yang digunakan.. Dari sisi alat yang dibuat   terdapat perbaikan yang dapat dilakukan yaitu, lingkar diameter ember yang digunakan disarankan lebih lebar, tinggi ember dapat di tambah, bagian tengah berupa botol bekas minuman disarankan lebih kecil sehingga tikus harus menjangkau umpan lebih ke tengah dan potensial terperangkap. Alat yang dibuat efektif untuk tikus berukuran sedang sampai kecil, mudah dibuat dan efektif untuk memerangkap lebih dari satu tikus serta bisa dipakai berulang-ulang.

Kesimpulannya  Alat perangkap tikus efektif untuk tikus berukuran sedang sampai kecil, sedangkan  sarannya dalam uji coba adalah alat dapat diaplikasikan di masyarakat dengan perbaikan : menambah diameter ember, menambah tinggi ember, memperkecil ukuran tempat umpan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.