Oleh: Rabiatul Adawiyah

Berdasarkan data kemenkes RI, Indonesia tahun 2016 telah ditemukan 13.009 penderita filariasis kronis yang tersebar di 34 propinsi, sedangkan jumlah orang yang rentan terkena filariasis sebanyak 105 juta orang. Penyakit ini endemis pada 236 kabupaten/kota di Indonesia, dari jumlah tersebut 51 kabupaten/kota telah melaksanakan POPM selama 5 tahun, 181 kabupaten/kota sedang melaksanakan POPM dan 4 kab/kota belum melakukan POPM.

Jumlah penderita filariasis di Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2016 ada 15 orang tersebar di Kecamatan Tabukan ada 10 orang, Kecamatan Marabahan 3 orang, Kecamatan Barambai 1 orang dan Kecamatan Rantau Badauh 1 orang dengan jenis kelamin laki-laki 8 orang (53,3%) dan perempuan sebanyak 7 orang (46,7%) dengan berdasarkan umur 15-65 tahun sebanyak 12 orang (80%) dan diatas 65 tahun sebanyak 3 orang (20%). Tahun 2017 merupakan tahun ke-5 POPM di Kabupaten Barito Kuala dengan cakupan sebesar 95,85%.

Pada tahun 2018 dilaksanakan survei Pre-TAS yang dilakukan oleh BBTKLPP Banjarbaru, dimana lokasi survei dilakukan ditiga desa yaitu desa sentinel (Desa Karya Jaya dan Desa Karya Makmur) diperoleh 345 responden dan di desa spot check (Desa Danda Jaya) diperoleh 380 responden. Total semua responden 725 responden. Waktu pelaksanaan kegiatan dari tanggal 07-13 Mei 2018. Tempat pelaksanaan di Desa Karya Jadi dan Karya Makmur Kecamatan Tabukan sebagai desa sentinel dan Desa Danda Jaya Kecamatan Rantau Badauh sebagai desa spot check.

Dari  hasil  survei diperoleh  Pre-TAS  dilakukan di Desa Karya Jadi sebagai desa sentinel sebanyak 270 responden, karena jumlah sampel di Desa Karya Jadi tidak mencukupi maka diambil dari Desa Karya Makmur yang bersebelahan dengan topografi yang hampir sama sebanyak 75 responden sehingga untuk desa Sentinel sebanyak 345 responden. Sedangkan Desa Danda Jaya sebagai desa spot check diambil  sebanyak 380 responden sehingga  total sampel adalah 725 responden.

Distribusi sampel berdasar variabel  jenis kelamin, hasil  survei  Pre-TAS yang dilakukan di Desa Karya Jadi dan Desa Karya Makmur sebagai desa sentinel Puskesmas Tabukan Kecamatan Tabukan sebanyak 345 orang terdiri dari Laki-laki  45%, perempuan sebanyak 55%, semua dinyatakan negatif. Sedangkan pada Desa Danda Jaya Puskesmas Rantau Badauh Kecamatan Rantau Badauh sebagai desa spot sebanyak 380 orang terdiri dari Laki-laki  34%, perempuan sebanyak 66%, semua dinyatakan negatif.

Untuk distribusi berdasarkan umur di Kabupaten Batola Kecamatan Tabukan Desa Karya Jadi dan Desa Karya Makmur sebagai desa sentinel dari 345 responden, di dominasi oleh umur 11-20 tahun sebanyak 23%, disusul oleh umur 31-40 tahun sebanyak 21%, umur 05-10 tahun 17%, umur 41-50 tahun sebanyak 16% dan terakhir umur 51 tahun keatas sebanyak 8%.

Sedangkan Desa Danda Jaya sebagai desa spot check dari 380 responden, didominasi oleh umur 51 tahun keatas sebanyak 22%, disusul oleh umur 11-20 tahun sebanyak 21%, umur 41-50 tahun 20%, umur 31-40 tahun sebanyak 16%, umur 05-10 tahun sebanyak 11% dan terakhir umur 21-30 sebanyak 10%.

Hasil Pemeriksaan Mikroskopis

Adapun hasil pemeriksaan mikroskopis di desa sentinel (Desa Karya Jadi dan Desa Karya Makmur) dan desa spot check (Desa Danda Jaya) di Kabupaten Barito Kuala dinyatakan semua negatif. Dengan demikian angka mikrofilaria ratenya (mf rate) sebesar 0%  atau <1%. Sesuai dengan ketentuan apabila mikrofilaria rate <1% maka dilanjutkan dengan survei TAS (Transmission Assesment Survey)

Kesimpulan

Pada kegiatan ini jumlah keseluruhan responden di Kabupaten Barito Kuala sebanyak 725 orang, terdiri dari desa sentinel (Desa Karya Jaya dan Desa Karya Makmur) wilayah Puskesmas Tabukan Kecamatan Tabukan diperoleh 345 responden dan di desa spot check (Desa Danda Jaya) wilayah Puskesmas Rantau Badauh Kecamatan Rantau Badauh diperoleh 380 responden, total 725 responden. Dari hasil pemeriksaan mikroskopis diperoleh hasil semua dinyatakan negatif  mikrofilaria (0%), dengan demikian angka mikrofilaria rate (Mf rate) <1% untuk selanjutnya perlu dilakukan  TAS (Transmission Assessment Survei), untuk mengetahui ada tidaknya penularan

Saran

  1. Dinkes Kabupaten Barito Kuala
  2. Persiapan pelaksanaan evaluasi lanjutan berupa  TAS (Transmission Assessment Survei) dengan melakukan pendataan jumlah sekolah SD/MI/sederajat beserta anak sekolah berumur 6-7 tahun (kelas 1 dan 2) secara akurat di wilayah Kabupaten Barito Kuala.
  3. Tetap memberikan penyuluhan terhadap masyarakat setempat secara berkesinambungan baik pihak Dinas Kesehatan Kabupaten beserta jajarannya  dan melibatkan peran serta masyarakat setempat.
  4. Masyarakat  Kabupaten Barito Kuala

Walaupun hasil survei Pre-TAS filariasis  menyatakan mikrofilaria rate 0% namun masyarakat harus tetap waspada dan menjaga lingkungan sekitar seperti menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk, serta memberantas sarang nyamuk/perindukan nyamuk penular filariasis dengan cara 3M.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.